Pendudukan Jepang di Indonesia telah membawa berbagai macam bentuk penderitaan bagi bangsa Indonesia, mulai dari penyiksaan, kerja paksa intimidasi dan banyak kekerasan lainya.
Muncul reaksi untuk membebaskan diri dan mengakhiri penjajahan Jepang oleh rakyat Indonesia. Dalam menghadapi pemerintah Jepang bangsa Indonesia melakukan dua strategi yaitu strategi kerjasama dan strategi non kooperatif.
1. Strategi Kerjasama atau Kooperatif
Menurut Pranoto (2000) para tokoh perjuangan itu dapat dikelompokkan sesuai perjuangannya, sebagai berikut:
Kelompok Moderat
Kelompok Moderat ialah kelompok yang mau bekerjasama dengan Jepang yang termasuk mendirikan organisasi 3A. Organisasi 3A dibentuk Jepang sebagai alat propaganda Jepang di Asia. Tujuan pemerintah Jepang membentuk organisasi 3A adalah agar mendapatkan rasa simpati dari bangsa Indonesia agar mau membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya.
Ketua dari organisasi 3A adalah Mr. Syamsudin. Gerakan 3A ini memiliki semboyan
1. Jepang Pelindung Asia
2. Jepang Pemimpin Asia
3. Jepang Cahaya Asia
Kelompok Radikal
Kelompok Radikal ialah kelompok yang menajalankan perjuangan melalui gerakan bawah tanah, seperti PKI (Partai Komunis Indonesia), PSI (Partai Sosialis Indonesia).
Kelompok Nasionalis
Sedangkan kelompok Nasionalis ialah kelompok yang memperjuangkan bangsa Indonesia dimana tokoh ini yang pernah dipenjara Belanda dan mau bekerjasama dengan Jepang. Tokoh yang termasuk kelompok ini ialah Soekarno dan Muhammad Hatta.
Pada masa Hindia Belanda tokoh nasionalis ini memilih jalur nonkooperatif atau tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi, pada masa pendudukan Jepang tokoh nasionalis ini memilih untu bekerjasama dengan pemerintah Jepang.
Strategi kerjasama ini dipilih oleh tokoh nasionalis karena pada masa itu dihadapkan pada pilihan yang sulit dalam menghadapi pemerintah Jepang. Pilihan pertama sebagai tokoh nasionalis sangat berkeinginan untuk melindungi bangsanya, namun dipilihan kedua pemerintah Jepang sangat kejam dan keras untuk menuntut para tokoh untuk membantu Jepang dalam menghadapi perang Asia Timur Raya.
Meskipun memilih untuk kerjasama dengan pemerintah Jepang tujuan strategi yang dipilih melalui kerjasama itu untuk bisa mencapai kemerdekaan Indonesia.
Bentuk kerjasama terhadap pemerintah Jepang dilakukan melalui organisasi politik. Melalui organisasi Politik dipandang jauh lebih efektik dalam melakukan perlawanan melawan penjajah Jepang karena dengan menggunakan badan atau organisasi yang didirikan atas izin pemerintah Jepang.
Dengan organisasi bentukan pemerintah Jepang para tokoh itu dapat mengunakan untuk membentuk semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Oraganisasi yang dibentuk oleh pemerintah Jepang seperti; Jawa Hokokai, Putera dan lainnya.
Dengan memilih melaui kerjasama dengan pemerintah Jepang memberikan peranan bagi bangsa Indonesia untuk membentuk semangat nasionalisme dan membangun jejaring dalam meneruskan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia
2. Strategi Non Kooperatif atau Perlawanan
Beberapa tokoh bangsa Indonesia ada yang memilih melalui strategi non kooperatif atu perlawanan kepada pemerintah Jepang. Perlawanan tersebut dilakukan oleh rakyat maupun menggunakan organisasi PETA.
Perlawanan rakyat Indonesia terhadap Jepang yang pertama terjadi di Aceh. Faktor penyebab munculnya perlawanan rakyat Aceh terhadap Jepang adalah tindak sewenang-wenang tentara Jepang yang tidak menghormati kehidupan umat Muslim di sana. Salah satu tokoh perlawanan Aceh terhadap Jepang adalah Teuku Abdul Jalil, yang gugur dalam pertempuran pada November 1942.
Pada tahun 1944 di bulan Februari terjadi perlawanan rakyat Singaparna terhadap Jepang yang dipimpin oleh Kiai Zainal Mustafa. Selain akibat berbagai penindasan kepada rakyat Singaparna, pemerintah Jepang melakukan kebijakan mewajibkan untuk melakukan tradisi Seikeri yaitu membungkukan badan ke arah matahari terbit.
Selain di Aceh dan Singaparna perlawanan rakyat Indonesia terhadap Jepang juga terjadi di Pontianak, Indramayu, Sulawesi Selatan, dan Biak.
Menyaksikan kekejaman pemerintah Jepang terhadap rakyat Indonesia. PETA (Pembela Tanah Air) yang merupakan organisasi militer bentukan Jepang di berbagai wilayah akhirnya mengangkat senjata melawan pemerintah Jepang. Seperti di Aceh, Blitar dan Cilacap.
Demikianlah bentuk stategi bangsa Indonesi dalam menghadapi Jepang dengan cara kerjasama atau kooperatif dan melalui strategi non kooperatif. Semoga bermanfaat!
Posting Komentar untuk "Strategi Bangsa Indonesia dalam Menghadapi Pendudukan Jepang"