Pendudukan Jepang di Indonesia yang tergolong singkat sekitar tiga setengah tahun telah membawa banyak pengaruh di berbagai bidang. Berikut ini dampak penjajahan Jepang di Indonesia yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Bidang Militer
Hal paling menonjol pada masa Pendudukan Jepang adalah dibidang militer. Sebab pada saat itu perang secara fisik tengah berlangsung. Jepang memanfaatkan masyarakat untuk ikut terlibat dalam Perang Asia Timur Raya melawan Sekutu. Alasannya sudah tentu dikarenakan Jepang membutuhkan pasukan agar bisa memenangkan perang tersebut.
Untuk membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya dibentuk beberapa organisasi semimiliter dan militer seperti Seinendan, Keibodan, Hizbullah, Fujinkai, Barisan Pelopor, PETA, dan Heiho. Organisasi tersebut dilatih sedemikian rupa untuk bisa menggunakan senjata, baris-berbaris, dan latihan militer lainnya.
Baca Juga
Salah satu organisasi nantinya sangat berguna bagi Indonesia adalah PETA. Paska kemerdekaan ex anggota PETA berubah menjadi Badan Keamanan Rakyat (BKR), kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan kini menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Melalui pelatihan di organisasi militer maupun semimiliter membuat para pemuda Indonesia memiliki bekal keterampilan militer yang nantinya sangat berguna setelah Indonesia merdeka hingga saat ini. Paska kemerdekaan contohnya dalam menghadapi kekuatan Sekutu.
Pengalaman dan pelatihan militer yang pernah didapat dari pendudukan Jepang mencakup dalam bidang ketentaraan, bidang pertahanan, dan bidang keamanan. Pelatihan militer yang diperoleh rakyat Indonesia, antara lain dalam hal dasar-dasar militer, baris-berbaris, dan latihan menggunakan senjata.
2. Pengerahan Perempuan dan Tenaga Kerja
Selain pengerahan tenaga pemuda untuk mengikuti pelatihan semi militer dan militer. Tenaga perempuan juga tidak ketinggalan dilakukan mobilisasi untuk bergabung ke organisasi yang bernama Fujinkai. Akibatnya ialah perempuan Indonesia mendapat kesembatan untuk bergerak dalam organisasi, meskipun mendapatkan pengawasan yang ketat dari Jepang.
Tujuan Jepang membentuk Fujinkai adalah untuk membantu Jepang seperti, memobilisasi massa, memberikan pengajaran kewanitaan, dan memberikan solusi atas permasalahan sehari-hari yang terjadi dimasyarakat.
Organisasi Fujinkai mempertemukan semua perempuan Indonesia dari berbagai kelas sosial sehingga jangkauan komunikasi dan pergerakan perempuan menjadi semakin luas.
Selain mendapat kesempatan untuk bergerak, banyak juga perempuan di Indonesia yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang, misalnya dalam bentuk Jugun lanfu. Banyak perempuan Indonesia yang menjadi korban penipuan pada mulanya mereka diberikan janji akan disekolahkan atau diberi pekerjaan ternyata mereka dijadikan sebagai perempuan penghibur bagi tentara Jepang.
Korban Jugun lanfu tidak hanya berasal dari Indonesia tapi juga dari Korea dan Tiongkok. Para perempuan Jugun lanfu adalah korban perang. Nasib mereka sangat menyedihkan, banyak di antara mereka yang menderita penyakit fisik dan mental.
Ketika perang berakhir, para Jugun Ianfu tidak berani bersuara karena berbagai hal, mulai dari trauma hingga rasa malu. Pada awalnya, pihak Jepang juga tidak mengakui masalah ini hingga pada bulan Desember 1991, tiga orang mantan Jugun lanfu dari Korea bersuara dan menuntut permintaan maaf serta ganti rugi dari pemerintah Jepang.
Selain Jugun lanfu, penderitaan di masa penjajahan Jepang juga dirasakan oleh para korban pekerja paksa dalam bahasa Jepang disebut dengan Romusa. Kebanyakan korban pekerja paksa berasal dari golongan petani.
Kerja Paksa mulai dilaksanakan oleh pemerintah Jepang pada bulan Oktober 1943. Pemerintah Jepang mewajibkan para petani untuk bekerja paksa tanpa upah bahkan mendapat penyiksaan. Para petani banyak yang dipekerjakan untuk membuat fasilitas umum, seperti jalan, jembatan dan lapangan udara.
Pemerintah Jepang melakukan propaganda baru yang menyatakan para pekerja paksa atau Romusa ini dengan sebutan pahlawan ekonomi yang menjalankan tugas suci untuk angkatan perang Jepang.
Jumlah pekerja Romusa tidak diketahui pasti, diperkirakan mencapai jumlah 4 hingga 10 juta orang. Karena kurangnya fasilitas dan tidak ada jaminan kerja banyak pekerja Romusa yang meninggal karena kekurangan makan, kelelahan, penyakit malaria.
3. Bidang Ekonomi
Pada masa pendudukan Jepang kehidupan ekonomi rakyat sangat menderita. Sebelum meninggalkan Indonesia, Belanda yang kalah perang melawan Jepang pada bulan Maret 1942 melakukan aksi bumi hangus Hindia Belanda.
Sejak itulah kehidupan ekonomi menjadi lumpuh dan keadaan ekonomi berubah dari ekonomi rakyat menjadi ekonomi perang. Ekonomi perang artinya semua kekuatan ekonomi di Indonesia digali untuk menopang kegiatan perang.
Langkah pertama yang dilakukan Jepang adalah merehabilitasi prasarana ekonomi, selanjutnya Jepang menyita seluruh kekayaan musuh dan dijadikan hak milik Jepang. Pendudukan Jepang di Indonesia menerapkan konsep ekonomi perang Adapun upaya Jepang untuk mencapai cita-cita dan ambisi politiknya di bidang ekonomi dilakukan dengan cara-cara berikut:
- Jenis perkebunan yang tidak berguna dibatasi, dimusnahkan, dan diganti dengan tanaman bahan makanan. Seperti teh, kopi, tembakau yang diganti oleh tebu untuk pembuatan gula
- Jepang melancarkan kampanye penyerahan barang-barang dan menambah bahan pangan secara besar-besaran.
- Jepang memonopoli penjualan hasil perkebunan teh, kopi, karet, dan kina
- Rakyat hanya diperbolehkan mempunyai 40% dari hasil pertaniannya, 30% harus dijual kepada pemerintah Jepang dengan harga yang sangat murah, dan 30% harus diserahkan ke lumbung desa.
- Pemerintahan Jepang mengeluarkan peraturan untuk melakukan pengawasan terhadap penggunaan dan peredaran sisa persediaan barang yang diperketat Rakyat dibebani dengan pekerjaan tambahan yang bersifat wajib, seperti menanam pohon jarak yang bisa digunakan untuk pelumas pesawat terbang dan senjata.
- Bekas perkebunan g tembakau, kopi, dan teh dipakai untuk ditanami bahan makanan.
- Semua harta benda dan perusahaan perkebunan milik orang Belanda disita dan beberapa perusahaan vital seperti pertambangan, listrik, telekomunikasi, dan perusahaan transportasi langsung dikuasai pemerintah.
4. Bidang Sosial
Pendudukan Jepang di Indonesia juga memengaruhi bidang sosial penduduk. Ada dua hal yang paling berpengaruh dibidang sosial yaitu:
- Menghapus pengaruh-pengaruh Barat di Indonesia
- Mobilisası bangsa Indonesia untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya
Selain dua prioritas tersebut, terdapat dampak sosial yang terjadi ketika orang-orang Indonesia mengalami tindakan sewenang-wenang dari Jepang, seperti penahanan, penyiksaan, menjadi korban salah tangkap, dan lainnya.
Bukan hanya itu, warga Indonesia juga dijadikan sebagai pekerja paksa (romusa) yang tidak mendapatkan upah. Selain itu, pendudukan Jepang di bidang sosial menyebabkan banyak orang kelaparan, sakit, bahkan sampai mati. Hal ini disebabkan karena Jepang melakukan mobilitas massa dengan mengerahkan ratusan ribu penduduk desa untuk membangun sarana dan prasarana perang
5. Bidang Pemerintahan
Pemerintahan pendudukan Jepang selama di Indonesia telah menghilangkan pengaruh orang-orang Eropa. Kesempatan bagi orang Indonesia untuk menduduki jabatan di pemerintahan yang dahulunya hanya diperuntukkan bagi orang Eropa saja.
Namun kesempatan ini menjeadi dilema. Karena pada satu sisi, hal ini menguntungkan bagi sebagian orang Indonesia karena dapat memperoleh kekuasaan Namun, di sisi lain hal tersebut menjadikan mereka sebagai kolaborator Jepang yang dalam beberapa hal berarti membantu Jepang menindas rakyat Indonesia.
Para pejabat lokal ini sering kali berada dalam posisi yang dilematis karena jika mereka tidak tunduk pada Jepang mereka akan dihukum berat atau bahkan dibunuh. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia merdeka, beberapa pejabat lokal menjadi sasaran kemarahan rakyatnya seperti di beberapa kawasan Sumatra Timur (sekarang Sumatra Utara). Brebes, Tegal, dan Pemalang karena mereka dianggap ikut membantu Jepang menindas rakyat.
6. Bidang Budaya dan Pendidikan
Pendudukan Jepang di Indonesia juga tampak pada bidang budaya dan pendidikan rakyat Indonesia. Pemerintahan Jepang pernah mencoba menerapkan kebudayaan memberi hormat ke arah matahari terbit kepada rakyat Indonesia.
Dalam masyarakat Jepang, kaisar memiliki tempat tertinggi, karena diyakini sebagai keturunan Dewa Matahari. Jepang berusaha menerapkan nilai-nilai kebudayaannya kepada bangsa Indonesia. Tetapi langsung mendapat pertentarigan dan perlawanan dari masyarakat di Indonesia Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam menolak memberi hormat dengan membungkukkan punggung dalam-dalam (seikerei) ke arah matahari terbit.
Sistem pendidikan Indonesia pada masa pendudukan Jepang berbeda dengan masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, semua kalangan dapat mengakses pendidikan, sedangkan masa Hindia Belanda, hanya kalangan atas (bangsawan) saja yang dapat mengaksesnya. Akan tetapi, sistem pendidikan yang dibangun oleh Jepang itu memfokuskan pada kebutuhan perang. Meskipun akhirnya pendidikan dapat diakses oleh semua kalangan, tetapi secara jumlah sekolahnya menurun sangat drastis, dari semulanya 21.500 menjadi 13.500.
Dapat dikatakan bahwa pendidikan pada masa pendudukan Jepang mengalami kemerosotan bila dibandingkan dengan masa Hindia Belanda. Banyak sekolah-sekolah yang dijadikan tempat indokrinasi tentang kemakmuran bersama Asia Timur Raya. Sistem pegajaran dan kurikulum ditujukan untuk keperluan perang, seperti mata pelajaran yang utama diajarkan ialah pendidikan jasmani untuk menunjang Jepang dalam perang Asia Timur Raya.
Dalam bidang budaya tampak pada peningkatan hal ini dapat diliaht dari beberapa contoh seperti:
- Jepang memperbolehkan pengunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar disekolah, surat kabar dan radio
- Senis sastra pada masa pendudukan Jepang sangat berkembang baik dengan dukungan pengunaan bahasa Indonesia.
- Seni rupa dan seni musik pun didukung. Di mana agar karya budaya ini tidak menyimpang dari tujuan Jepang, maka pada tanggal 1 April 1943 di Jakarta didirikan Pusat Kebudayaan dengan nama Keimin Bunka Shidosho.
Demikianlah dampak penjajahan Jepang di Indonesia. Sebagai bangsa yang besar sudah seharusnya kita menghormati dan menghargai jasa para pahlawan yang telah berkorban nyawa, harta dan tenaga untuk berdirinya negar Indonesia. Jas Merah!
Posting Komentar untuk "Dampak Penjajahan Jepang di Indonesia"